Cerpen pertama di Media (Majalah Hai, April 2012) – Angel Eyes

ANGEL EYES

Dheavannea

 Image

Pada kecepatan 90km/jam di jalan bebas hambatan, Rhino mulai merasakan suara gesekan ban dan aspal yang muncul di sela-sela lagu Lonely Boysnya The Black Keys. Rhino mulai bersenandung sambil membayangkan Clara, anak kelas 11D, cewek incerannya.

oh oh oh oh, I got a love that keeps me waiting

I’m a lonely boy, I’m a lonely boy

 

            Rhino yakin, minggu depan dia bukan Lonely boy lagi. Dia akan menjadi Rhino pacar Clara. Apalagi semenjak papa memberikan Mazda2 sebulan yang lalu. Siapa yang sanggup menolak pesona Rhino? Anak bungsu pemilik jaringan distro terkenal seluruh Indonesia, ketua kelas 11C yang terkenal tampan, pinter, dan baik hati. Tepatnya, royal. Pasti Clara malah merasa beruntung. Seperti sepuluh mantan kekasihnya.  

            Rhino perlahan menyadari sesuatu. Rhino mencengkeram setir seraya menggeram dalam hati. Kenapa bego banget ya gue hari ini? Clara yang mengacaukan konsentrasiku. Clara anak pemilik showroom mobil yang cantik dan pintar.

“Sial!” Rhino memaki pelan. Cahaya biru lampu depan menyorotkan cahaya miring sehingga membentuk diagonal. Bukan lurus. Dengan kening berkerut, Rhino melirik swatch di pergelangan tangan kirinya. Pukul 21.00. Bengkel baru itu pasti sudah tutup. Kalau saja Mas Danu teman Indra nggak pergi ke Bali selama sebulan, Rhino pasti mempercayakan perawatan mobil padanya. Termasuk pemasangan lampu Angel Eyes CCFL biru. Dengan kesal, Rhino makin memacu kendaraan seagresif Eminem ngerap dalam lagu The Way I am.

“Cause I am
Whatever you say I am
If I wasn’t, then why would I say I am?
In the papers, the news, everyday I am
I don’t know it’s just the way I am “

X

            Rhino mematut diri depan cermin. Dia yakin Clara bakalan klepek klepek. Sebuah kemeja zara model slim fit berwarna broken white membalut tubuhnya yang tinggi tegap dan sixpack dipadukan dengan celana panjang formal hitam berbahan twin. Penampilan Rhino disempurnakan oleh jas semi formal dengan hoody yang funky dan sepatu berwarna senada.

            Sedikit gel diusapkan Rhino menciptakan model rambut perpaduan Kim Hyun Joong dan Hyun bin yang manly. Rhino mengambil botol Black code dari Giorgio Armani untuk menyempurnakan penampilannya.

This is the day your life will surely change
This is the day when things fall into place

            This is the day Manic Street Preacher mengiringi aksinya. Clara adalah cewek Capricorn. Sebenarnya sebagai cowok Rhino tidak terlalu perduli dengan omong kosong zodiak. Tapi demi kesuksesan kencan pertama ini, Rhino bela-belain ngintip di lapak majalah langganannya saat dia sedang membeli majalah Hai.

            Tips menggaet cewek Capricorn pada kencan pertama adalah membawa cewek tersebut ke resto mahal, romantis, dan berkelas. Pakaian yang dikenakan juga harus formal dan berkelas. Tiba-tiba…

            “Rhinooo!! Lo liat parfum Armani gue enggak, Bro? Kok gue ubek-ubek kamar gue enggak ada. Kan kebiasaan anak ingusan kayak lo suka sok gaya pake parfum gue?” Suara Indra kakaknya, menggelegar memporakporandakan khayalannya.

            Indra muncul depan pintu kamar Rhino. Saat dia melihat pakaian Rhino, alisnya terangkat.

            “Mau ke mana lo? Pasti ngegebet anak orang lagi ya lo?”

            “Ya iya lah. Masa anak kucing?” Rhino cuek.

            “Lo mo sampe kapan kayak gini terus?”

            “Maksud Lo apa sih?”

            “Mainin perasaan cewek.” Indra menghela napas.

            “Lho? Kan gue nggak playboy. Tiap masa cuma satu kok. Terus kalo gue ganti cewek seperti ganti oli, ya itu karena gue belum ketemu cewek yang sesuai kriteria gue aja, Bro.”

            “Terus. Sekarang Lo dah nemu. Oya siapa nama cewek yang sekarang ini nih?”

            “Clara ini berbeda. Pokoknya gue yakin sekarang.”

            “Aha. Itu juga yang Lo bilang bulan kemaren tentang Cindy. Juga Angel. Debby, Sarah, Tiara, Diny, Diana, dan sebagainya juga dan lain-lain.”

            “Udah lah. Pokoknya sekarang berbeda. Gue cocok ama Clara. Selevel. Pasangan ideal. Dan mama juga bilang kan gapapa kita pacaran asalkan prestasi sekolah kita bagus. Jadi pacaran gue oke-oke aja kan. Daripada Lo. Katanya punya pacar. Udah dua tahun lagi. Tapi Lo selalu ngerahasiain ceweknya. Jadi gue sangsi. Lo beneran punya pacar nggak sih? Kalo punya, tunjukin donk. Kenalin kita semua.”

            “Gue punya alesan ngerahasiain cewek gue. Karena cewek gue unik. Lo jangan ikut campur urusan gue.” Indra berkata tajam.

            “Lebih baik Lo juga melakukan hal yang sama. Jangan ikut campur urusan gue. Nih parfumnya. Tangkaap.” Rhino melempar Black Code.

            “Satu lagi. Pinjem mobil donk. Mobil gue lagi nggak beres. Ini juga kan karena Mas Danu ke Bali, jadi nggak ada tukang service andelan Rhino. Jadi Lo sebagai kakak harus tanggung jawab. Pinjem ya Honda Jazznya.” Rhino melenggang keluar kamar melesat ke kamar Indra. Sesaat kemudian…

            “Tenang aja. Lo mau dibeliin apa? Nasi kebuli resto favorit Lo? Siap, Boss!”

            Indra cuma mengangkat bahu. Rhino paling mengerti kelemahan Indra. Paling nggak bisa nolak ditawarin makanan favoritnya. Ah sudahlah. Hari ini tokh gue nggak ada kuliah, batin Indra sambil menyaksikan adik semata wayangnya yang melesat keluar bagai panah terlepas dari busurnya. Satu hal yang Indra yakin. Rhino belum pernah jatuh cinta.

X

            Buset ini bengkel apa kuburan sih? Sepi amat. Batin Rhino memandangi beberapa mobil yang berada di sana. Matanya tertumbuk pada sepasang kaki yang terjulur muncul dari balik sebuah mobil semi sport berwarna putih metalik. Pasti ini si Idrus yang kemaren masang lampu gue nggak beres nih.

            “Permisi, sampurasuuun, kulonuwun!!” Rhino setengah berteriak diantara deru las yang bising. Tetap tak ada jawaban. Dengan sebal, Rhino menendang kaki di balik mobil putih itu.

            “Woi, Bang Idrus!! Emang Lo jaga bengkel ini sendirian ya? Pada ke mana semua orang sampe gue dicuekin begini. Gue mo complain, nih. KOMPLAIN!!”

            Sang pemilik kaki mulai terusik. Menggeser badannya keluar dari kolong mobil. Badannya terbungkus overall berwarna orange yang membuat pandangan Rhino makin silau. Matanya tertutup safety glasses dan kepalanya memakai topi baseball. Perlahan dia membuka topinya. Rhino mulai tercengang. Rambut panjang si montir tergerai lepas melampaui bahunya. Semerbak wangi chamomile berpadu dengan bau oli. Pipi putih kemerahan tercoreng oli sehingga terlihat seperti Suku Asmat.

            “Ya, Mas? Ada perlu apa ya? Ada yang bisa dibantu? Maaf saya tadi sedang asyik kerja.” Perlahan suara lembutnya terdengar lembut dan mendayu.

            Hati Rhino berdebar-debar. Mukanya memerah. Mengapa mendadak dia merasa gugup? Rhino menganga seperti kambing amnesia. Perlahan, montir bengkel membuka safety glasses yang menyembunyikan matanya. Rhino tercekat. Waktu seolah berhenti berputar. Debar jantung Rhino makin gila. Mata montir itu bening, sedikit berair, sendu tapi memancar tegas. Matanya seolah memantulkan cahaya matahari. Suara montir, tepatnya wanita itu, melelehkan hatinya.

            “Mas? Hei?” Cewek itu melambaikan tangannya.

            “Oh God Those eyes.” Rhino berkata putus asa.

            “Maaf?”

            “Oh ya ma ma maksudnya eyes. Iya Eyes.” Rhino tergagap.

            “Angel eyes. Aku mau komplain angel eyes mobilku. Engg…cahayanya miring membentuk diagonal.” Susah payah Rhino menyelesaikan kalimatnya.

            “Ok. Tinggalin aja mobilnya di sini dulu, Mas…..siapa namanya? Mas Idrus dan yang lain lagi makan siang.”

            “Rhino. Namamu siapa?”

            “Nirmala. Tapi panggil aja Mala.”

            “Oke deh saya titip mobil ini dulu ya bilang aja Rhino. Saya buru-buru soalnya. Tuh temen saya nungguin.” Rhino menunjuk Clara yang sedang menunggunya di mobilnya.

            “Oke deh. Salam ya ama pacar Mas. Cantik.” Mala tersenyum.

            Rhino tersenyum kecut. Iya. Clara emang pacarnya. Tepatnya seminggu yang lalu saat Clara menerima pernyataan cintanya. Rhino perlahan menjauh meninggalkan bengkel itu. Tapi mengapa seolah hatinya tertinggal di sana? Those angel eyes really stole my heart. Hati Rhino sakit rasanya.

X

            “Rhino, cepet ganti baju. Kita makan di luar hari ini.” Mama masuk ke kamar.

            “Siapa yang ultah, Mom?”

            “Masmu mau ngenalin pacarnya.”

            “Oya? Mana orangnya? Emang dateng orangnya?” Rhino jadi penasaran.

            “Eh kamu nggak ajak Clara? Masih Clara kan pacarmu?” Mama bertanya menggoda.

            Setelah berganti baju, Rhino melesat ke ruang tamu. Dia melihat Indra duduk membelakangi Rhino di sebelah seorang gadis sambil memeluk gadis itu mesra.

            “Wah wah akhirnya berani juga Lo bawa cewek.” Rhino menggoda Indra.

Indra menoleh ke belakang dan menatap Rhino sambil nyengir.

            “Eh La, Sayang, kenalin adik gue yang manja nih, Rhino.” Indra berkata mesra.

            Perlahan cewek itu berbalik. Dan Rhino seperti tersambar petir. Angel Eyes. Nirmala. Cewek di bengkel itu.

            “Eh Rhino? Kamu kan yang ditungguin pacarmu di mobil itu, kan?”

            “Eh Rhino, Mala ini keponakan Om Brata tetangga kita yang punya bengkel langganan kamu itu lho. Dia juga jago utak atik mesin. Anak teknik mesin” Kata Indra bangga.

            “Yoi gue juga tau.” Rhino berusaha tenang.

            “Tapi sori, gue nggak bisa dinner. Clara mendadak nelpon minta bantuan gue. Sori banget. Yang penting gue kan udah kenal ama pujaan hati Indra.” Rhino berkata sopan.

            Andai saja Indra tau. Nirmala juga pujaan hati Rhino. Those Angel Eyes really stole my heart. Hatinya terasa sakit.

Advertisements

2 thoughts on “Cerpen pertama di Media (Majalah Hai, April 2012) – Angel Eyes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s