Cecep the Chef (Majalah Hai, Oktober 2012) dikembangkan menjadi Novel “KluBelimbing Meraih Bintang”

CECEP THE CHEF

 

 

Bayu, Adrian, dan Tommy tergelak. Mata mereka berkaca-kaca karena tertawa terlalu geli. Bahkan Tommy pun terguling-guling di lantai teras rumah Asep, sahabat mereka semua. Menurut mereka, pemandangan Asep alias Cecep benar-benar lucu dan bikin ngakak. Saat itu mereka berempat berkumpul mengerjakan proyek dan tugas sekolah. Kebetulan sekali Pak Darma mengumpulkan empat sekawan itu dalam satu kelompok.

Dan rumah Cecep memang tempat favorit mereka berkumpul untuk melakukan kegiatan bersama. Apalagi untuk belajar. Sungguh menginspirasi. Walaupun rumah Cecep bukan di perumahan elite seperti ketiga temannya, tapi rumah Cecep yang berada di perkampungan penduduk daerah kemanggisan sungguh luas, terasa sejuk, dan nyaman. Rimbunnya pohon mangga dan jambu air makin membuat mereka semua betah di rumah Cecep. Walaupun rumah Cecep sederhana dan tidak mewah seperti rumah yang lainnya, tapi untuk urusan perut dan udara segar, mereka percayakan kepada Cecep dan rumahnya.

Tawa mereka masih saja membahana melihat tangan Cecep yang dipenuhi plastik belanja yang berisi sayur mayur, daging sapi dan ayam mentah. Akhirnya, Cecep mengeluarkan senjata pamungkasnya.

“Sedetik aja setelah selesai kata-kataku ini kalian masih tertawa dan tidak diam, jangan harap bisa metik mangga di rumahku. Dan dengan sangat terpaksa, untuk makan siang kali ini, tak ada menu mie ayam istimewa buatan ibuku tercinta.”

Suasana hening seketika. Setelah dua menit, mulailah orkes keroncong mengalun merdu dari perut Adrian. Lalu disambut dari perut Bayu dan Tommy. Cecep tersenyum penuh kemenangan. Sesaat kemudian, Cecep mulai terbahak-bahak.

“Kalian bertiga tuh ya dasar anak manja. Memang kenapa kalo aku bawa belanjaan dari pasar? Ini kan tugasku sehari-hari. Warung mie ayam ibuku membutuhkanku sebagai bagian purchasing (bagian pembelian).” Cecep berkata angkuh dan takzim.

“Coba kalo kemarin aku nggak belanja? Mau makan siang apa kalian hari ini? Kan kalian bertiga penggemar berat Mie Ayam ibu.” 

KRUUK. Suara keras keluar dari perut Adrian. KREEK. Bayu, Adrian, Tommy berpandang-pandangan merasa tidak enak hati. Mereka takut Cecep benar-benar tersinggung.

 “Sudah, sudah. Si Cecep nggak usah diladenin. Pokoknya Ibu sudah siapin empat mangkok Mie Ayam porsi besar untuk kalian semua. Cecep kan cuma bercanda.”

Bu Rara, ibu Cecep, datang mengiringi Hana alias Rohana, adik Cecep yang membawa nampan berisi empat mangkok berisi mie ayam yang mengepul-ngepul. Aroma yang menguar sungguh menggugah selera. Dari arah dapur mereka mendengar suara tawa Cecep.

Mereka bertiga langsung menghela napas lega. Dan orkes perut pun berlanjut. Bu Rara tersenyum. Hana terkikik geli dan langsung bersemu merah saat perhatian ketiga remaja yang dilanda wabah kelaparan langsung menatap penuh minat kepadanya.

Saat Cecep kembali mereka berempat mulai melahap mie ayam dengan kecepatan satu suap permenit. Dalam hati, Tommy, Bayu, dan Adrian merasa menjadi anak yang beruntung. Tidak perlu ke pasar tiap hari dan membawa tas plastik kresek ke pasar tradisional yang menurut mereka ‘nggak banget deh’ buat kegiatan kawula muda masa kini. Tapi mereka menelan pendapat mereka bulat-bulat. Takut Cecep marah. Setidaknya hingga dessert buah mangga dan jambu air segar disajikan, mereka harus menahan lidah.

Cecep melirik ketiga temannya dengan iri. Sungguh, bukan maksudnya untuk tidak bersyukur akan karuniaNya. Tapi Cecep tidak seperti ketiga temannya yang bebas hang out di Café-café mahal, nge-band seperti remaja pria ‘normal’. Tanggung jawab sebagai anak tertua Bu Rara menuntutnya untuk membantu Ibu membiayai Hana dan Sinta kedua adik perempuannya setelah ayah tiada.

Dahulu, mereka hidup berkecukupan. Tanah luas pekarangan rumahnya membuktikan hal itu. Dulu, mereka tak perlu berjualan Mie Ayam. Tapi kepergian ayah saat Cecep baru saja lulus Sekolah Dasar, telah menjungkirbalikan dunia Cecep. Kasus tabrak lari benar-benar menghancurkan hati ibu. Selama 6 bulan ibu berduka dan tidak tahu harus berbuat apa. Sampai-sampai harus menjual mobil dan motor yang mereka punya. Walaupun saat ini mereka telah memiliki motor kembali untuk transportasi, Cecep lebih menyukai sepeda demi menghemat bahan bakar. Bahkan Cecep menganggapnya olahraga dan menyumbang sesuatu bagi bumi dengan tidak menghambur-hamburkan bensin untuk hal yang tak perlu.

Mendadak Cecep tersadar dari lamunan. Rupanya Adrian, Bayu, dan Tommy sudah nangkring di tempat favorit masing-masing. Adrian di pohon mangga, Bayu di pohon jambu air, dan Tommy….

Sialan, bisik Cecep geram.

“Tommy…Ngapain kau nongkrong sambil nenteng gitar di deket jendela kamar Hana? Woi, pengamen udah banyak! Cepetan hengkang dari sana kalo nggak mau aku timpuk mangga!” Naluri melindungi ala kakak laki-laki Cecep mulai bekerja.

Tommy nyengir, lalu menjawab nggak kalah sengit.

“Daripada Kamu, Cep. Laki-laki kok bawa ulekan ke mana-mana? Cecep Quinn mungkin cocok jadi namamuu. Oh no! Mulai saat ini dirimu jadi Cecep the Chef!! Cowok itu harusnya ngegebet cewek bukannya masak!”

Bayu dan Adrian tertawa berderai-derai melihat adegan kejar-kejaran ala bollywood antara Cecep yang bawa ulekan dan Tommy satria bergitar. Hana dan Sinta Cuma bisa geleng-geleng kepala.

*

Mobil bayu menerjang kabut dalam kepekatan malam. Bayu, Adrian, Tommy, dan Cecep berwajah murung. Survey lokasi untuk kegiatan lapangan tugas sekolah berakhir kacau. Saat ini mereka terperangkap di puncak tanpa uang yang memadai. Kemacetan total dan kelelahan melanda mereka sehingga mencegah mereka pulang malam ini juga. Kecerobohan Bayu meninggalkan dompet memudahkan copet beraksi dengan cepat. Seluruh ATM, KTP, dan uang tunai lenyap. Sementara uang Adrian habis saat makan siang mewah di restoran Puncak. Uang tunai Tommy habis membayar bensin setelah mobil Bayu kena macet hampir berjam-jam lamanya.

Mereka berempat merogoh kantong jaket dan celana masing-masing, mencari receh yang tersisa. Setelah terkumpul, jumlah uang terkumpul ‘hanya’ 15.000,00 rupiah saja. Bayu, Adrian, Tommy terduduk lemas.

“Aku lapar,” Adrian merengek. Tommy dan Bayu terduduk dengan wajah ‘shock’. Seumur hidup mereka, baru kali ini mereka mengalami hal semacam ini. Hanya Cecep yang mengernyit berpikir. Satu-satunya orang yang tidak memiliki pandangan kosong dalam situasi ini.

“Makan apa kita hari ini?” Bayu mengeluh sambil menatap coklat batangan miliknya yang sudah lumer.

“Yang jelas kita harus nginep. Kita harus menghemat bahan bakar. Lihat kemacetan itu. Makin parah.” Gumam Cecep sambil tetap tercenung.

Muka Tommy pucat. Matanya yang biasa jeli melihat makhluk manis seolah tak peduli saat segerombolan remaja perempuan melewati mobil mereka yang diparkir di pinggir Jalan Raya Puncak.

“Padahal 2 km lagi, ada villa tanteku. Tapi kita bener-bener harus menghemat bahan bakar. Belum tentu tanteku lagi ke villa itu. Mana hape kita lowbatt lagi. Kita terdampar. Mana nggak ada ATM sekitar sini.” Tommy menatap kartu ATMnya yang tak berguna saat ini.

“Tak ada jalan lain. Kita harus camping. Sini serahkan kepadaku. Aku mau belanja sayuran di pasar. Untunglah ada kompor portable, tikar, dan selimut di bagasi mobilmu Bayu. Untunglah papamu suka mancing ya. Jadi ada peralatan memasak segala. Kurasa uangnya cukup buat beli mie atau nasi. Untuk bikin sop atau soto, serahkan padaku.”

Cecep berkata lugas setelah sebelumnya dia sibuk membongkar bagasi mobil Bayu.

            Kriuk kriuuuk. Perut mereka berempat langsung berbunyi mendengar kata-kata Cecep soal makanan dan masakan. Kali ini, Cecep the chef adalah dewa penyelamat mereka.

 

Advertisements

Cerpen pertama di Media (Majalah Hai, April 2012) – Angel Eyes

ANGEL EYES

Dheavannea

 Image

Pada kecepatan 90km/jam di jalan bebas hambatan, Rhino mulai merasakan suara gesekan ban dan aspal yang muncul di sela-sela lagu Lonely Boysnya The Black Keys. Rhino mulai bersenandung sambil membayangkan Clara, anak kelas 11D, cewek incerannya.

oh oh oh oh, I got a love that keeps me waiting

I’m a lonely boy, I’m a lonely boy

 

            Rhino yakin, minggu depan dia bukan Lonely boy lagi. Dia akan menjadi Rhino pacar Clara. Apalagi semenjak papa memberikan Mazda2 sebulan yang lalu. Siapa yang sanggup menolak pesona Rhino? Anak bungsu pemilik jaringan distro terkenal seluruh Indonesia, ketua kelas 11C yang terkenal tampan, pinter, dan baik hati. Tepatnya, royal. Pasti Clara malah merasa beruntung. Seperti sepuluh mantan kekasihnya.  

            Rhino perlahan menyadari sesuatu. Rhino mencengkeram setir seraya menggeram dalam hati. Kenapa bego banget ya gue hari ini? Clara yang mengacaukan konsentrasiku. Clara anak pemilik showroom mobil yang cantik dan pintar.

“Sial!” Rhino memaki pelan. Cahaya biru lampu depan menyorotkan cahaya miring sehingga membentuk diagonal. Bukan lurus. Dengan kening berkerut, Rhino melirik swatch di pergelangan tangan kirinya. Pukul 21.00. Bengkel baru itu pasti sudah tutup. Kalau saja Mas Danu teman Indra nggak pergi ke Bali selama sebulan, Rhino pasti mempercayakan perawatan mobil padanya. Termasuk pemasangan lampu Angel Eyes CCFL biru. Dengan kesal, Rhino makin memacu kendaraan seagresif Eminem ngerap dalam lagu The Way I am.

“Cause I am
Whatever you say I am
If I wasn’t, then why would I say I am?
In the papers, the news, everyday I am
I don’t know it’s just the way I am “

X

            Rhino mematut diri depan cermin. Dia yakin Clara bakalan klepek klepek. Sebuah kemeja zara model slim fit berwarna broken white membalut tubuhnya yang tinggi tegap dan sixpack dipadukan dengan celana panjang formal hitam berbahan twin. Penampilan Rhino disempurnakan oleh jas semi formal dengan hoody yang funky dan sepatu berwarna senada.

            Sedikit gel diusapkan Rhino menciptakan model rambut perpaduan Kim Hyun Joong dan Hyun bin yang manly. Rhino mengambil botol Black code dari Giorgio Armani untuk menyempurnakan penampilannya.

This is the day your life will surely change
This is the day when things fall into place

            This is the day Manic Street Preacher mengiringi aksinya. Clara adalah cewek Capricorn. Sebenarnya sebagai cowok Rhino tidak terlalu perduli dengan omong kosong zodiak. Tapi demi kesuksesan kencan pertama ini, Rhino bela-belain ngintip di lapak majalah langganannya saat dia sedang membeli majalah Hai.

            Tips menggaet cewek Capricorn pada kencan pertama adalah membawa cewek tersebut ke resto mahal, romantis, dan berkelas. Pakaian yang dikenakan juga harus formal dan berkelas. Tiba-tiba…

            “Rhinooo!! Lo liat parfum Armani gue enggak, Bro? Kok gue ubek-ubek kamar gue enggak ada. Kan kebiasaan anak ingusan kayak lo suka sok gaya pake parfum gue?” Suara Indra kakaknya, menggelegar memporakporandakan khayalannya.

            Indra muncul depan pintu kamar Rhino. Saat dia melihat pakaian Rhino, alisnya terangkat.

            “Mau ke mana lo? Pasti ngegebet anak orang lagi ya lo?”

            “Ya iya lah. Masa anak kucing?” Rhino cuek.

            “Lo mo sampe kapan kayak gini terus?”

            “Maksud Lo apa sih?”

            “Mainin perasaan cewek.” Indra menghela napas.

            “Lho? Kan gue nggak playboy. Tiap masa cuma satu kok. Terus kalo gue ganti cewek seperti ganti oli, ya itu karena gue belum ketemu cewek yang sesuai kriteria gue aja, Bro.”

            “Terus. Sekarang Lo dah nemu. Oya siapa nama cewek yang sekarang ini nih?”

            “Clara ini berbeda. Pokoknya gue yakin sekarang.”

            “Aha. Itu juga yang Lo bilang bulan kemaren tentang Cindy. Juga Angel. Debby, Sarah, Tiara, Diny, Diana, dan sebagainya juga dan lain-lain.”

            “Udah lah. Pokoknya sekarang berbeda. Gue cocok ama Clara. Selevel. Pasangan ideal. Dan mama juga bilang kan gapapa kita pacaran asalkan prestasi sekolah kita bagus. Jadi pacaran gue oke-oke aja kan. Daripada Lo. Katanya punya pacar. Udah dua tahun lagi. Tapi Lo selalu ngerahasiain ceweknya. Jadi gue sangsi. Lo beneran punya pacar nggak sih? Kalo punya, tunjukin donk. Kenalin kita semua.”

            “Gue punya alesan ngerahasiain cewek gue. Karena cewek gue unik. Lo jangan ikut campur urusan gue.” Indra berkata tajam.

            “Lebih baik Lo juga melakukan hal yang sama. Jangan ikut campur urusan gue. Nih parfumnya. Tangkaap.” Rhino melempar Black Code.

            “Satu lagi. Pinjem mobil donk. Mobil gue lagi nggak beres. Ini juga kan karena Mas Danu ke Bali, jadi nggak ada tukang service andelan Rhino. Jadi Lo sebagai kakak harus tanggung jawab. Pinjem ya Honda Jazznya.” Rhino melenggang keluar kamar melesat ke kamar Indra. Sesaat kemudian…

            “Tenang aja. Lo mau dibeliin apa? Nasi kebuli resto favorit Lo? Siap, Boss!”

            Indra cuma mengangkat bahu. Rhino paling mengerti kelemahan Indra. Paling nggak bisa nolak ditawarin makanan favoritnya. Ah sudahlah. Hari ini tokh gue nggak ada kuliah, batin Indra sambil menyaksikan adik semata wayangnya yang melesat keluar bagai panah terlepas dari busurnya. Satu hal yang Indra yakin. Rhino belum pernah jatuh cinta.

X

            Buset ini bengkel apa kuburan sih? Sepi amat. Batin Rhino memandangi beberapa mobil yang berada di sana. Matanya tertumbuk pada sepasang kaki yang terjulur muncul dari balik sebuah mobil semi sport berwarna putih metalik. Pasti ini si Idrus yang kemaren masang lampu gue nggak beres nih.

            “Permisi, sampurasuuun, kulonuwun!!” Rhino setengah berteriak diantara deru las yang bising. Tetap tak ada jawaban. Dengan sebal, Rhino menendang kaki di balik mobil putih itu.

            “Woi, Bang Idrus!! Emang Lo jaga bengkel ini sendirian ya? Pada ke mana semua orang sampe gue dicuekin begini. Gue mo complain, nih. KOMPLAIN!!”

            Sang pemilik kaki mulai terusik. Menggeser badannya keluar dari kolong mobil. Badannya terbungkus overall berwarna orange yang membuat pandangan Rhino makin silau. Matanya tertutup safety glasses dan kepalanya memakai topi baseball. Perlahan dia membuka topinya. Rhino mulai tercengang. Rambut panjang si montir tergerai lepas melampaui bahunya. Semerbak wangi chamomile berpadu dengan bau oli. Pipi putih kemerahan tercoreng oli sehingga terlihat seperti Suku Asmat.

            “Ya, Mas? Ada perlu apa ya? Ada yang bisa dibantu? Maaf saya tadi sedang asyik kerja.” Perlahan suara lembutnya terdengar lembut dan mendayu.

            Hati Rhino berdebar-debar. Mukanya memerah. Mengapa mendadak dia merasa gugup? Rhino menganga seperti kambing amnesia. Perlahan, montir bengkel membuka safety glasses yang menyembunyikan matanya. Rhino tercekat. Waktu seolah berhenti berputar. Debar jantung Rhino makin gila. Mata montir itu bening, sedikit berair, sendu tapi memancar tegas. Matanya seolah memantulkan cahaya matahari. Suara montir, tepatnya wanita itu, melelehkan hatinya.

            “Mas? Hei?” Cewek itu melambaikan tangannya.

            “Oh God Those eyes.” Rhino berkata putus asa.

            “Maaf?”

            “Oh ya ma ma maksudnya eyes. Iya Eyes.” Rhino tergagap.

            “Angel eyes. Aku mau komplain angel eyes mobilku. Engg…cahayanya miring membentuk diagonal.” Susah payah Rhino menyelesaikan kalimatnya.

            “Ok. Tinggalin aja mobilnya di sini dulu, Mas…..siapa namanya? Mas Idrus dan yang lain lagi makan siang.”

            “Rhino. Namamu siapa?”

            “Nirmala. Tapi panggil aja Mala.”

            “Oke deh saya titip mobil ini dulu ya bilang aja Rhino. Saya buru-buru soalnya. Tuh temen saya nungguin.” Rhino menunjuk Clara yang sedang menunggunya di mobilnya.

            “Oke deh. Salam ya ama pacar Mas. Cantik.” Mala tersenyum.

            Rhino tersenyum kecut. Iya. Clara emang pacarnya. Tepatnya seminggu yang lalu saat Clara menerima pernyataan cintanya. Rhino perlahan menjauh meninggalkan bengkel itu. Tapi mengapa seolah hatinya tertinggal di sana? Those angel eyes really stole my heart. Hati Rhino sakit rasanya.

X

            “Rhino, cepet ganti baju. Kita makan di luar hari ini.” Mama masuk ke kamar.

            “Siapa yang ultah, Mom?”

            “Masmu mau ngenalin pacarnya.”

            “Oya? Mana orangnya? Emang dateng orangnya?” Rhino jadi penasaran.

            “Eh kamu nggak ajak Clara? Masih Clara kan pacarmu?” Mama bertanya menggoda.

            Setelah berganti baju, Rhino melesat ke ruang tamu. Dia melihat Indra duduk membelakangi Rhino di sebelah seorang gadis sambil memeluk gadis itu mesra.

            “Wah wah akhirnya berani juga Lo bawa cewek.” Rhino menggoda Indra.

Indra menoleh ke belakang dan menatap Rhino sambil nyengir.

            “Eh La, Sayang, kenalin adik gue yang manja nih, Rhino.” Indra berkata mesra.

            Perlahan cewek itu berbalik. Dan Rhino seperti tersambar petir. Angel Eyes. Nirmala. Cewek di bengkel itu.

            “Eh Rhino? Kamu kan yang ditungguin pacarmu di mobil itu, kan?”

            “Eh Rhino, Mala ini keponakan Om Brata tetangga kita yang punya bengkel langganan kamu itu lho. Dia juga jago utak atik mesin. Anak teknik mesin” Kata Indra bangga.

            “Yoi gue juga tau.” Rhino berusaha tenang.

            “Tapi sori, gue nggak bisa dinner. Clara mendadak nelpon minta bantuan gue. Sori banget. Yang penting gue kan udah kenal ama pujaan hati Indra.” Rhino berkata sopan.

            Andai saja Indra tau. Nirmala juga pujaan hati Rhino. Those Angel Eyes really stole my heart. Hatinya terasa sakit.

Menggenggam Pijar Purnama (Dimuat di Gadis nov 2012, setahun yang lalu)

Image

Menggenggam Pijar Purnama

Nuri Novita

 

 

Aku menatap kerutan di tangan yang sedang menggenggam karet untuk menarik seutas tali itu. Baru kali ini aku melihat langsung seseorang yang benar-benar bekerja keras. Tangan seorang bapak tua yang menarik tali agar perahu yang disebut getek itu dapat maju membuang jarak menuju seberang Kali Ciliwung. Sungai dengan air kecokelatan bertabur sampah yang membelah Kota Jakarta itu mendatangkan mata pencaharian bagi Pak Nasir. Nama bapak tua itu.

Karet dari bahan sandal jepit itu terlihat lusuh, selusuh tangan yang menggenggamnya. Karet itu bertindak sebagai benteng agar tangan Pak Nasir tidak terluka bila langsung menarik tali getek. Otot-otot bisep dan trisep Pak Nasir bergerak seirama arus kecil air sungai yang mengalir mengantarkanku ke seberang.

Aku menatap cemas kehadiran mendung di langit. Hari mulai diselimuti awan hitam. Angin sepoi-sepoi beberapa saat lalu kini menggila hingga sampah-sampah yang mengapung di air sedikit melayang ke udara.

Aku menyesali keterlambatanku. Hari sudah terlalu sore dan bersiap menjemput malam. Cuaca buruk makin memperkeruh suasana. Akhirnya aku tak memedulikan lagi kerja keras Pak Nasir yang tadi cukup menarik perhatianku.

“Neng, udah sampai di seberang, Neng.”

Suara bass Pak Nasir membuyarkan ruang imaji yang mulai melayang-layang.

“Neng, tampaknya mau hujan lebat, Neng. Saya mau istirahat dulu. Anginnya terlalu kencang. Tenaga tua saya nggak sanggup narik getek saat hujan lebat dan berangin. Terlampau berat. Getek satu-satunya di sini. Mudah-mudahan Neng masih agak lama, ya, di sini.”

“Iya, Pak. Nggak apa-apa. Saya memang terlambat ke tempat ini. Teman saya, Ajeng, lagi sakit. Jadi, saya ingin menggantikannya. Tak tega membayangkan anak-anak di sini kecewa karena kelas mendongeng batal hari ini.” Aku membalas Pak Nasir cepat-cepat.

“Hati-hati, ya, Neng. Walaupun ini sudah kesekian kalinya Neng ke sini menggantikan Ajeng, ini kan tetep perkampungan kumuh. Kita harus pandai jaga diri. Kalau bisa, sebelum magrib Neng sudah di sini lagi.”

Aku mengangguk sambil tersenyum ke arah Pak Nasir. Sambil melantunkan doa, aku menghabiskan jarak menuju rumah Mak Siti. Rumah terbaik di sekitar perkampungan liar tempat pembuangan sampah ini. Di sanalah kelas mendongeng biasa digelar.

Aku menunduk. Menghindari menatap langit mendung. Suasana redup yang menggayuti perjalananku menimbulkan detak gugup di dada.

Sreeettt. Seorang laki-laki menghadang perjalananku. Rambut lurusnya acak-acakan. Kulihat sebuah giwang murahan menghiasi telinga kirinya. Senyum sinisnya jelas ditujukan buatku.

“Wah, ada nona besar cantik berkenan hadir di tempat kumuh ini. Mencari saya, Nona?” Dia mulai memperkecil jarak di antara kami.

Aku refleks bergerak mundur. Kecemasan pasti terbayang jelas di wajahku karena laki-laki tadi melangkah maju dengan tatapan mengancam.

“Bang ROMI!! JANGAN GANGGU DIA!” Suara lain keras ditujukan pada laki-laki pertama.

Aku mencari sang empunya suara. Aku tercengang menatap seorang pemuda kotor dan gondrong yang mirip seorang vokalis band negeri ini. Matanya berkilat-kilat tajam menatap lelaki pertama yang bernama Romi. Mata itu tiba-tiba menoleh ke arahku. Kali ini sinar matanya meredup dan membelaiku dengan kelembutan. Aku menelan ludah. Kegugupanku mulai berubah rupa.

“Hei, Pur! Mau apa kau di sini, hah?” Baru tercium aroma menyengat dari mulut Romi.

Tiba-tiba suara petir menggelegar, mengusik pertikaian dua lelaki di depanku. Pembelaku yang dipanggil ‘Pur’ dan Romi.

“Maaf, Bang Romi. Sekarang bukan saatnya menghadapimu! Kembali padaku saat kau sedang tidak mabuk!” Laki-laki bernama Pur itu menggandengku tiba-tiba, tepat saat hujan mulai membelah langit.

Dalam tirai hujan kami berlari-lari mencari tempat berteduh. Saat menemukannya, tubuh kami sudah kuyup dibelai hujan.

Aku menoleh ke samping, ke arah penolongku tadi, lalu cepat-cepat menunduk saat dia menoleh ke arahku.

“Namaku Purnama. Semua memanggilku Pur.”

“Aku Tari. Lengkapnya Mentari.”

“Mentari dan Purnama menari dalam irama hujan,” gumamnya.

Aku tertegun. Purnama ternyata sangat terpelajar. Buat apa dia ada di sini?

*

Tok tok tok.

Suara ketukan di pintu kamarku membawaku ke alam nyata.

“Tari, kamu dipanggil Mama untuk makan siang.” Mbak Puji, asisten Mama mencubit pipiku.

“Makan siang, Mbak? Tumben Mama pulang dari galeri. Biasanya juga Mama makan di galeri?”

“Hari ini galeri sengaja tutup setengah hari. Ada pesanan suvenir angklung dari Singapura. Jadi, mamamu ingin ke Bandung siang ini juga untuk mempersiapkan pengrajin di sana. Tuh, Pak Bono udah siap anterin mamamu. Kami tunggu di bawah, ya. Makan siang bareng.”

Aku mengangguk. Mbak Puji menutup pintu kamar.

Apa yang harus kulakukan? Sudah tiga hari ini Purnama merajai pikiranku. Genggaman erat tangannya saat kami berlari dan setengah mati melawan licinnya perjalanan begitu berkesan. Berkali-kali nyaris terjatuh tapi kami saling menjaga agar tak jatuh. Saat aku tergelincir, dengan sigap Purnama menahanku agar tak jatuh. Saat Purnama terpeleset, aku menariknya agar kembali bangkit.

Pipiku panas bila mengingat itu. Aroma kopi yang menguar dari jaket Purnama menularkan kehangatan pada tubuhku yang menggigil karena mandi hujan kala itu.

“Saat kecil, kukira hujan itu tetesan air mata Tuhan. Karena aku nakal, makanya Tuhan menangis. Tapi saat ini, bagiku hujan adalah pembawa rezeki.” Purnama tersenyum simpul menatapku.

“Rezeki itu membuatku bertemu Mentari yang akan menerangi jalanku. Menuntunku ke arah terang. Kamu tahu, purnama pun gelap jika tak memantulkan cahaya mentari.”

Entah kenapa aku terbahak-bahak saat itu. Menurutku ucapannya mulai berlebihan. Tawaku menulari Purnama. Saat itu kulihat geligi paling putih dan rapi dalam hidupku. Ada cahaya memantul dalam senyumnya.

 

“Sebenarnya apa yang kau lakukan di sini, Tari?”

“Aku ingin mengajarkan mimpi pada anak-anak di sini lewat kelas dongeng. Hanya dengan mimpi mereka dapat mengubah nasib. Aku juga anak tunggal yang tak punya teman di rumah. Selain les-les wajib di daftar Mama, aku ingin punya teman di luar lingkunganku yang biasa. Aku pun ingin punya adik. Di sini aku mendapatkan semuanya.”

“Kamu nggak ke mal? Sebagian gadis yang kukenal lebih senang nongkrong di mal.”

“Mal memang ramai, tapi semua sibuk dengan urusan masing-masing. Aku sudah bosan shopping. Baju yang ada di mal sudah ada di lemariku. Mama atau Mbak Puji yang membelikan. Lagi pula, aku gadis yang tak pernah pusing dengan urusan fashion. Hahaha. Aku ke mal hanya untuk menonton film yang menurutku bagus. Jadi, cukup sekali-kali aja.”

Purnama menatapku lekat. Sorot matanya terlihat begitu bercahaya di mataku. Matanya berpijar seperti purnama saat malam datang.

“Lebih baik kamu pulang aja, Tari. Tubuhmu kuyup dan hari mulai gelap.”

“Aku menyukai malam. Tanpa gelap kita tak akan pernah melihat bintang.”

“Hahaha! Tari! Stephenie Meyer memang pernah bilang begitu, tapi di kota besar yang sarat kriminalitas ini lebih baik kamu cepat pulang. Esok kamu bisa kembali lagi, kan? Saat terang akan lebih aman.”

“Tukang baca juga, ya? Kok tau aku ngutip kata-kata Stephenie Meyer?”

“Banyak orang mengatakan hal semacam itu, deh. Bukan hanya dia.”

Sisa hari itu dihiasi gelak tawa kami hingga magrib menjelang.

“Mentari! Ayo kita makan, Sayang. Mama lapar, nih.”

Suara Mama membawaku ke dunia nyata. Aroma ikan kerapu bakar kesukaanku menguar menelusup di celah pintu kamarku. Mendadak aku merasa kelaparan.

*

“Jadi, Purnama itu keponakan Pak Nasir?”

“Yup.” Ajeng memotong-motong siomay sambil mengangguk-angguk.

“Pantas dia ada di sana.”

“Yup. Dia kuliah di Yogya. Kemarin itu dia lagi liburan. Berkunjung ke rumah pamannya, sekalian riset tentang masyarakat yang hidup di antara gunung sampah untuk tugasnya di jurusan komunikasi. Sepertinya dia cerdas. Dia kuliah karena beasiswa penuh, lho.” Ajeng berbinar-binar.

“Kamu suka, ya?”

“Hahaha. Lalu si Mulia mau aku simpan di mana, Tari? Astaga! Jangan-jangan kamu yang suka Mas Purnama, ya?”

Pipiku memanas. Ajeng tersenyum jahil.

“Kemarin aku ke sana, dia nggak ada.”

“Jelas. Dia juga kerja part time ngisi liburannya. Lucu juga, ya, Mentari mengejar Purnama. Akankah mereka bersatu? Mereka hidup di dunia yang berbeda.”

Aku mencubit bahu Ajeng dengan gemas. “Dunianya tetap sama, cuma waktunya yang berbeda. Aku siang, dia malam.”

Sehabis menyesap sirop rasa stroberi, aku meninggalkan Ajeng yang mulai asyik berbagi cerita dengan Mulia, kekasihnya.

*

 

Kali kedua bersama Purnama. Bias cahaya memantul dari kaca gedung di depanku. Matahari nun di atas sana seperti sedang marah dan menyiramkan panas teriknya ke seluruh penghuni bumi. Aku tersenyum lega. Kealpaanku membawa payung tidak membuatku khawatir lagi seperti tadi pagi.

Segala hal di alam semesta ini berusaha kulihat secara positif. Mama pernah berkata itulah kunci bahagia. Saat itu aku hanya mengangguk-angguk berpura-pura mengerti. Kata Mama, pernahkah sayang mama yang manja ini (tentu saja maksud Mama aku) berterima-kasih terhadap semua yang dianggap buruk oleh kita?

Semua hal yang kita anggap buruk adalah ujian. Tantangan untuk menjadi lebih kuat dan lebih baik lagi. Jika kita menjadi pribadi yang makin maju secara fisik dan mental, seharusnya kita berterima kasih pada hal-hal –yang terlihat- buruk itu, kan?

Saat aku berputus asa mencari buku ‘Sybil – gadis dengan 16 kepribadian’ di seluruh sudut buku psikologi, aku melihat sosok dengan jaket yang sangat kukenal.

“Kak Pur?” Aku terkesima melihat Purnama yang terlihat lebih tampan dari saat pertama kali bertemu. Kali ini jaketnya menguarkan aroma musk dan kayumanis. Dia bersih dan rapi. Rambutnya dipangkas pendek seperti mahasiswa yang beradab, berbudaya, dan terpelajar.

“Kak Pur,” kataku dengan suara lebih keras sambil mengintip buku apa yang sedang dibacanya. Angela’s Ashes. Kak Pur seperti tenggelam dalam buku memoar itu. Aku menyerap dalam-dalam aroma bersih dari tubuhnya. Aku merutuki diri sendiri saat perlahan-lahan jantungku memompa darah lebih cepat karenanya.

Ya Tuhan. Dia masih larut dalam dunianya sendiri. Entah mengapa pemandangan laki-laki larut dalam buku yang dibacanya terlihat menarik di mataku. Laki-laki itupun tampan dan masih muda. Aku tersenyum-senyum sendiri.

Aku menepuk bahunya pelan. Dia terlonjak kaget dan bukunya terjatuh. Aku langsung menyesal melihat reaksinya. Perlahan dia  menoleh ke arahku sambil mencopot sesuatu dari telinganya. Pantas dia sekaget itu. Ada musik menguasai telinganya. Seperti musik yang tiba-tiba saja menelusupi hatiku. Aku langsung memasang senyum termanisku. Dia terperangah.

“Tari?” Matanya langsung intens mengamatiku seksama. Aku merasa jengah. Perlahan kurasakan panas menjalar ke seluruh wajahku. Purnama menghela napas panjang. Lalu diam. Hening menggelayuti pertemuan itu pada awalnya. Beberapa menit kemudian.

“Kamu harus baca buku Angela’s Ashes. Kamu akan bertambah empati terhadap penderitaan bocah-bocah tak terurus di sekitar tempat pembuangan sampah itu. Oh ya, kamu sedang mencari buku tertentu atau jalan-jalan saja?”

Kebekuan percakapan makin mencair saat kami membicarakan buku. Aku menyuarakan keprihatinanku terhadap tetanggaku yang kuliah jurusan psikologi tapi tak tahu menahu tentang buku Sybil. Aku berencana mencarikan buku tersebut untuknya.

Obrolan kami melompat-lompat dari Dan Brown hingga Sandra Brown. Julia Quinn hingga Anthony Quinn. Jurassic Park hingga Mansfield Park. Twilight hingga Anne Frank. The Cranberries hingga Sherina. Wushu hingga Kill Bill. Jet Lee hingga Si Pitung. The Chemical romance hingga Suju. Michael Crichton hingga Herge. Topik yang melompat-lompat sesuka kami.

Sepanjang siang hingga sore hari, aku menjalin pengertian dan pemahaman baru tentang Purnama. Sungguh aku makin terseret dalam pesona Purnama.

*

 

Sekali lagi pertemuanku dengan Purnama. Selepas shalat Magrib di Terminal Senen, aku menunggu bus di tengah kerumunan orang. Pada jam pulang kerja seperti ini, aku terpaksa berebut naik bus karena persaingan keras ibu kota. Bahkan untuk sekadar naik bus kota. Aku menyesal keasyikan berburu buku di pasar loak hingga lupa waktu.

Tadi Pak Bono yang mengantarkanku ke sini. Namun, karena Mama membutuhkannya, akhirnya aku pulang sendiri. Aku cemas, hari menjelang Isya tapi bus yang kutunggu belum juga tiba. Begitu bus muncul, aku terkesima melihat kerumunan orang berlari-lari menjemput bus yang masih berada di luar terminal.

Bahuku ditarik oleh seseorang. Aku tersentak. Kudengar seseorang menggeram. “Mentari! Buat apa gadis sepertimu ada di sini malam-malam? Demi Tuhan! Sendirian pula! Kamu tau ada orang baru saja meraba-raba tasmu? Ayo ikut aku!”

Tiba-tiba aku ingin sekali marah. Dalam fisik yang lelah, darahku mudah bergolak. Aku mendongak menatap orang yang menggeram tadi. Purnama. Mendadak aku tak bisa marah. Aku terpesona dengan kehadirannya.

Purnama marah-marah. “Hai, Mentari, bisa nggak kamu hanya merajai siang? Jangan ikut-ikut aku menyambangi malam. Lain kali, aku nggak mau melihat kamu di duniaku! Dunia malam!”

Mukaku terasa panas. “Selama ini mentari sukses menerangi hidupnya sendiri dan hidup orang lain. Apa salahnya sedikit berpetualang malam-malam? Bukankah aku perlu mengenal kehidupan bintang-bintang yang lain? Mengapa purnama mau turut campur kehidupan mentari?”

Purnama menghela napas panjang. Dia menatapku lekat-lekat. Tubuhnya menguarkan aroma after shave yang menyegarkan pernapasanku. Kali ini dia terlihat makin tampan dan bersih. Mendadak aku tak bisa berpikir. Matanya berkilat-kilat memantulkan cahaya lampu. Purnama berpijar malam itu. Perlahan pijarnya meredup dan suara selembut beledu membelaiku syahdu.

“Percayalah Tari, ini demi kebaikanmu.”

Aku memang percaya. Aku merasa aman bersamanya. Aku hanya bisa mengangguk dan menyerah.

Kudengar bunyi detak jantung membingkai perjalanan kami. Aku tak habis pikir mengapa Purnama sangat marah. Detak jantungnya menunjukkan hal itu. Aku tak mengerti. Sungguh. Aku merasa tak berarti di matanya. Kemarahan Purnama membuat hatiku sakit. Benarkah? Kalau hatiku sakit, mengapa ada debar aneh di dada? Entahlah. Aku tak mengerti.

 

*

“Neng Tari, kan?”

Aku menatap Pak Nasir yang sedang mempersiapkan geteknya.

“Ada titipan dari ponakan saya. Dia sudah berangkat ke Yogya pagi tadi. Maaf tak sempat pamitan, katanya.” Pak Nasir tersenyum maklum.

Aku mengambil surat dari tangan Pak Nasir lalu mengucapkan terima kasih. Aku mulai membaca lembar demi lembar surat itu.

 

Hai, Mentariku. Aku tahu kita berdua selalu bertemu pada saat dunia hanya memiliki warna putih, hitam, dan abu-abu. Dunia saat menjelang malam. Mungkin sepercik senja mewarnai pertemuan pertama kita. Yang jelas, kehadiranmu cukup membuat warnawarni dalam hidupku. Bahagia, takut, marah, dan cemas.

Aku bahagia saat bertemu pertama kalinya. Marah saat pertemuan ketiga kita. Aku marah karena sang mentari yang seharusnya tak menyusup di dunia malam, malah berkeliaran. Kamu benar-benar mentari bandel. Kamu nggak tau betapa cemasnya aku saat melihat dirimu diraba pencopet. Kamu nggak tau betapa takutnya aku saat melihatmu diganggu pemabuk. Perasaan itu datang begitu saja.

Lain kali kita pasti bertemu lagi. Lain kali aku ingin mentari ini tak pernah terlambat untuk pergi ke peraduannya. Jangan lagi berkeliaran di malam hari. Jangan lagi membuatku takut, cemas, dan marah.

Aku tahu sudah ada bumi yang menjaga dengan mengitarimu setiap waktu. Aku pun berusaha mendampingi bumi mengitarimu, Mentari. Hingga saatnya aku dapat menjadi bumimu.

Salam buat orangtuamu. Ceritakan tentangku. Tentang Purnama yang akan terus menjagamu. Seperti mereka, bumi yang menjaga mentariku.

Jadilah bintang paling besar yang menerangi malamku dan duniaku. Mentari, kaulah bintang itu.

 

Aku mengerti sekarang. Cinta bukan sekadar bahagia saat bertemu atau bersedih saat berpisah. Cinta itu harapan. Aku akan membujuk Mama agar mengizinkanku kuliah di Yogya tahun depan. Aku memilih untuk menggenggam pijar purnama.

*

 

 

 

 

Konvoi Resolusi, sebuah cerpen duet (dengan Karina Sukma) menyambut tahun baru dimuat di Majalah Story edisi desember 2012

Image

Oleh Dheavannea dan Karina Sukma

 

Amy menatap angka 31 pada kalender dengan sendu. Tanggal terakhir di ujung tahun 2011 yang tinggal seminggu lagi. Menyedihkan…

Tentunya menyedihkan bagi darah muda seperti Amy yang harus menghabiskan malam tahun barunya hanya dengan nongkrong di depan TV sambil ngemil kerupuk yang selalu tersedia di rumah.

            Ini nggak adil, batin Amy. Bahkan orangtua dan adiknya yang masih kelas lima SD sudah punya rencana untuk New Year’s Eve.

            “Kan kita juga pengen kayak anak muda lainnya. Ya kan Cin?” kata mamanya yang diamini papa.

Tak ketinggalan dengan gaya centilnya, Mini adiknya berkata “Kalah dong kakak ama gank aku. Hari gini manyun pas malem tahun baru? Please, dech!”

            Huh pengen jitak kepala tuh bocah rasanya. Harusnya malam tahun baru ia sudah punya acara dengan gank koplonya. Gank yang terbentuk secara tidak sengaja saat hari ospek atau orientasi studi di sekolahnya. Saat pertama kalinya dia ditakdirkan bertemu Chika, Rossa, Armand dan Fofo yang sama-sama dihukum hanya karena lupa membawa sandal jepit lain warna. Persahabatan aneh antara Amy yang cuek dan tomboy, Chika yang modis dan perfeksionis, Rossa yang pendiam dan kutu buku, Armand yang sok bergaya ala artis korea dan terakhir Fofo yang gembul.

            Tahun-tahun lalu mereka selalu bersama merayakan malam tahun baru, tapi untuk tahun baru ini berbeda. Semua teman seganknya sudah punya rencana sendiri. Chika berencana pergi ke Singapura bersama pacar superkayanya, Rossa ada penelitian dengan klub biologinya, lalu Armand dan Fofo mau dapat job jadi keamanan di pentas dangdut kampung.

            Amy menghempaskan badan ke tempat tidur.

“Sebodo amat..” gerutu Amy “Mending tidur sepuasnya mumpung besok minggu! Mau taun baru kek, nggak kek.. ..EGP!”

***

            Dan bagi Amy hari minggu adalah hari prestisius. Di mana ia bisa tidur sesuka hati. Mau pakai gaya nungging, gaya dada, gaya kodok sembelit, pokoknya tidak akan ada yang namanya kalimat:  Amyyy… bangun.. udah siang!!!

            Yah..yah seperti itu contohnya. Amy makin tenggelam dalam selimut bed covernya yang berwarna pink. Sebenarnya warna pink tidak cocok juga dengan kepribadian Amy yang secara fisik cewek tapi kepribadian Rambo. Tapi Amy tak ambil pusing, yang penting hangat.

Yang jelas Amy ingin melanjutkan mimpinya menjadi Batman eh Batgirl.

            “Hemm… nyem..nyem..nyemm…”

            “Amy bangunnnn… udah siang..!!!”

            “Hmm… hebat yah.. ngayal aja ampe berasa nyatanya..” gumam Amy dalam hati.

            “Amyyy… banguuunnnn….!!!!”

            “Beuh.. hebat sampai terasa banget stereonya yang mirip suara Chika..”

            Dok… dok.. dok..!!!

            Kali ini Amy sukses loncat dari tempat tidurnya karena kaget dengan suara gedoran ala Buser mau nyergap bandar togel.

            “Eits sial bulu ketek.. oaahhhh orang nekat macem apa yang bangunin gue di saat hari khusus bobo!!” gerutu Amy sambil mengucek-ucek rambut gaya bobnya.

            Dengan langkah gontai ia membuka pintu kamar tidurnya.

             “Eh elo-elo pade…” celetuk Amy dengan tidak antusias saat melihat Chika, Rossa, Armand dan Fofo saat membuka pintu.

            “Amy… gila Lo yaaa…. hampir bengkak tangan gue ngegedorin pintu kamar lo.”

            “Hee…” balas Amy cengengesan.

            “Nyengir..” kata Chika dengan jutek yang lalu masuk tanpa menunggu dipersilakan si empunya kamar dan kemudian langkahnya disusul yang lain.

            Chika menghempaskan pantatnya di tempat tidur Amy yang berantakan. Seperti biasa, si cewek perfeksionis ini hanya bisa memandang dengan muram melihat kamar Amy yang lebih mirip kandang bebek. Kok bisa ada cewek separah ini, selalu hal itu yang terpikir Chika. Tapi entah kenapa juga dua pribadi ini bisa jadi sohib kental. Disusul Rossa yang selalu membetulkan letak kacamatanya tiap lima menit. Gadis kalem, lemah gemulai ini hanya bisa tersenyum melihat tingkah ajaib Amy. Sedangkan Armand dan Fofo sudah menganggap Amy sebagai bagian dari kaum mereka. Kadang mereka lupa Amy berjenis kelamin cewek kalau tidak lihat dia memakai rok ke sekolah.

            “Memang mau ngapain si lo..lo pade ke sini??”

            “Kita mau rapat untuk acara malam tahun baru???” Omel Chika.

            “Heh?? bukannya udah punya acara sendiri-sendiri?”

            Chika, Rossa, Armand dan Fofo saling berpandangan lalu cengar-cengir gaje (gak jelas).  

“Pada batal semua! Gue nggak jadi ke Singapur, soalnya si Gary mendadak harus ke Madiun karena ada kakaknya nikah!”

            Lalu Amy menatap ke Rossa. Si kutu buku ini dengan malu-malu berkata, “Nggak jadi juga, klub Biologi pada meliburkan diri karena bingung mau meneliti apaan?”

            “Lha lo berdua?!”tanya Amy dengan sinis ke arah Armand dan Fofo yang langsung gelagapan.

“Hehehe… nggak jadi dangdutan diganti pengajian akbar!” kata Armand yang disusul cengengesan bareng Fofo.

            Amy menggaruk kepalanya yang makin membuat rambut bobnya makin kusut dan berantakan. Dia memandang satu persatu sahabatnya lalu berjalan menuju pintu keluar.

            “Lho mau ke manaaaa???” Seru Chika

            “Pipis.. mau ikutan?”

***

            “Okey, Gue udah cuci muka, udah mimi cucu.. monggo dilanjutkan rapatnya.” Seloroh Amy yang baru datang dengan muka yang lebih fresh.

            “Apanya yang dilanjutkan? Mulai aja belum. Nungguin Lo!” Cibir Chika.

            “Oh iya tah, hahahaha?”

            “Oke..oke.. Gue aja deh.. nggak perlu pembukaan. Jadi malem tahun nanti gimana kalo kita konvoi??” Teriak Armand tiba-tiba yang memotong tawa Amy.

            “Wah boleh tuh,” seru Amy antusias.

            “Gimana kendaraannya? Konvoi kan perlu transportasi,” tanya Rossa.
            “ Tenang…” kata Fofo misterius.

“Gue bisa minjem bokap gue…tau sendiri kan bokap punya banyak mobil?”

            Semua mengangguk sepakat. Si Fofo ini walau tampangnya kayak fakir miskin yang ditanggung negara, nggak dinyana ternyata punya bokap yang tajir.

            “Ehem.. Gue pengennya sih mobil terbuka, kan asyik tuh kalau buat konvoi..” gumam Chika sambil bayangin adegan film Hollywood. Cewek-cewek LA yang mengendarai mobil terbuka sambil mengoyang-goyangkan rambut pirangnya. Weiss, Keren dan modis!

            “Sip deh.. mau yang terbuka, tertutup, setengah buka setengah tutup juga boleh..”

            “Suer Lo Fo??”

            “Emang kapan sih gue pernah bohong, Say??” Jawab Fofo dengan kalem. Melihat hal itu Chika melengos keki.

            “Udah.. udah.. jadi gimana? Jadi kan acara konvoinya?” Tanya Amy dan semua setuju

                                                                                    ***

            Malam tahun baru

            Semua personel gank koplo sudah ngumpul di rumah Amy, kecuali Fofo  si donatur  transportasi itu masih on the way  menuju rumah Amy. Sembari menunggu Fofo, Amy heran melihat penampilan Chika yang ala Princess banget. Pakai gaun warna merah dan highheels plus riasan super tebal.

            “ Nggak salah nih Lo dandan beginian?”

            “Apanya?” Chika menelusuri tubuhnya “Perfect kan? Elo nggak pernah liat pilem Hollywood apa? Biasanya kan kalau pake mobil kap terbuka kan ceweknya pake baju beginian?”

            “ Yakin Lo?”

            Belum Chika menjawab terdengar suara derum mobil di luar pagar rumah Amy. Chika antusias mendengarnya dan buru-buru bangkit menemui Fofo.

            “Fofoo….” seru Chika. Lalu adegan slow motion Chika berlari menuju keluar dengan senyum terkembang yang diikuti lainnya.

            “Chikaaa.. Nih sesuai permintaan elo. Mobil kap terbuka kan??”teriak Fofo.

            Senyum Chika berganti menjadi jeritan melengking penuh derita saat melihat sebuah mobil pick up warna hijau butut terparkir dengan mulus di depan rumah Amy. Chika mengucek matanya untuk meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah sebuah ilusi.

            “Lo nggak inget apa Chik? Si Fofo kan bokapnya juragan sayur.” Bisik Amy dengan setengah ngikik, lalu Chika pingsan dengan sukses.

***

            “Udah dong Chik? Jangan pake acara ngambek gitu!” gerutu Amy melihat Chika yang menekuk mukanya dan bersedekap tangan sambil duduk di pojok sofa.

            “Pokoknya gue nggak mau ikuut!!”

            Amy melirik ke arah Armand dan Fofo. Sebuah senyum tipis nan licik terkembang di wajah mereka bertiga. Rossa aja sampai merinding melihat senyuman tiga orang di depannya itu. Armand dan Fofo bangkit dari duduknya dan mendekati Chika.

            “Ada apa?” Tanya Chika dengan ketus.

            Tiba-tiba Armand dan Fofo mengangkat tubuh Chika yang memang kurus dan ringan.

            “Eh apa-apan ini?”

“Lets gooooo!!!!” Teriak Amy.

            “Tidaaaaaaaaakkk!!” Teriak Chika seperti lengkingan kambing mau disembelih. Lalu terdengar suara derum mobil yang setengah terbatuk-batuk yang memulai perjalanannya.

                                                                                  ***

            “Oh, No! Bagaimana reputasi gue sebagai cewek tergaul dan termodis di skul kalo gue konvoi tahun baruan ama mobil pick up butut kayak gini? Ohh.” Chika langsung diam begitu melihat Fofo yang melirik sadis ke arahnya.

            “Lo bisa diem, gak, Chik? Desis Fofo penuh dendam. “Ini kan permintaan lo sendiri? Mobil terbuka, kan?” Fofo nyengir puas sambil mengangguk-angguk ala burung kutilang ke arah Armand, Amy, dan Rossa.

            Beberapa menit pun berlalu. Chika terus menerus merapikan rambutnya yang berkibar-kibar ala bintang Hollywood kesiangan. Matanya terpejam saking menjiwainya. Lalu perlahan Chika membuka matanya.

            “Lho, pren? Kita mau ke mana sich sebenernya. Kan ini bukan arah ke Monas? Katanya kalo konvoi tahun baru kita ke Monas? Lho? Ini kan arah ke Rumah Rossa?” Chika bertanya bingung menatap keempat sahabat lainnya menuntut jawaban.

            “Ini ada beberapa equipment yang ketinggalan di rumah Rossa.” Kata Amy misterius.

            Akhirnya tibalah mereka beserta si hijau butut di Rumah Rossa. Sesampainya di dalam Rumah Rossa. Chika terbengong-bengong. Amy dan ketiga sahabat lainnya tersenyum.

            “Chika, biarin gue ya yang jadi jubir anak-anak untuk memperkenalkan equipment  yang ketinggalan. Taraa. Ini Armand dengan aksesoris ala korea yang rencana mau didagangin di Monas nanti. Lalu Fofo dengan burger sayur yang mak nyuss, resep rahasia Mama Fofo. Dagangan kita. Dan last but not least, gue, Amy sebagai anggota PMR akan menyumbangkan alat P3K di Monas nanti bila ada masalah kesehatan di sana. Kalo gue terus terang akan kerja sosial ama Rossa di sana. Rossa juga telaten ngerawat orang sakit. Dia bakalan jadi asisten gue di sana. Jadi rencana baru kita akan lebih bermakna daripada sekedar hura-hura. Kita bisa bisnis dan menolong temen-temen lain yang membutuhkan pertolongan pertama di sana. Akan ada ‘sesuatu’ di sana yang membuat pengalaman tahun baru kita tak terlupakan.” Pidato Amy menggebu-gebu.

            Semua bertepuk tangan. Lalu papa dan mama Fofo, mama Amy, bunda Armand, Ibu Rossa perlahan muncul satu persatu dari dapur. Chika terbengong-bengong.

            “Lho? Kok gue nggak dikasih tau tentang rencana ini, sich?” Chika cemberut.

            “Karena kalo dikasih tau, kamu pasti ngamuk dan nggak setuju, karena kita juga akan garage sale barang-barang kamu yang jarang dipake dan masih bagus. Daripada berantakan di kamar.” Mama Chika muncul sambil tersenyum sambil membawa barang-barang Chika.

            Chika menatap tak percaya. Lalu perlahan dia menghampiri wedges berwarna coffee yang dibelinya 6 bulan yang lalu, lalu mengelus-ngelusnya penuh rasa sayang. Dia terbelalak melihat ankle boot warna merah yang dibelinya secara online tapi agak kekecilan sehingga nggak pernah dipakainya. Jumper warna shocking pink yang jarang dia pakai. Stripes mini dress warna ungu yang sudah mendekam lama di lemari karena dia sudah bosan. Dan beberapa fashion miliknya yang dia beli karena lapar mata.

            “Nggak papa kan Say kalo barang-barangmu ini di sale? Daripada mojok di lemari nggak pernah kamu pake juga?”  Gary, pacar Chika muncul dari pintu depan.

            “Aaarg! Gary? Kok kamu muncul, sich?” Teriak Chika kegirangan.

            “Ini memang surprise buat kamu, Chika.” Kata Amy menepuk-nepuk bahu Chika. Kita temen-temen lo kan sebenernya sayang ama Lo. En agak geram tiap kali lo shopping buang-buang duit buat barang yang sebenernya nggak lo butuhin. Mumpung malem tahun baru, kita sepakat bikin resolusi baru buat anggota gank kita tanpa kecuali untuk memperbaiki diri. Kita sepakat meminimalisasi kelakuan minus kita semua, berusaha peduli sesame, mengurangi hura-hura, dan mulai belajar bisnis. Biar tajir selagi muda, boo. Setujuuuu?” Amy berteriak penuh semangat.

            “Setujuu!” Semua orang menimpali pidato Amy dengan antusias, kecuali Chika.

            Amy beringsut maju memeluk Chika.

“Maaf ya Chika kita ngerjain lo. Tapi ini kita lakukan semata karena kita sayang ama lo, kok.” Amy berkata disambut Rossa, Fofo, dan Armand yang mengangguk-angguk.

“Lo sekarang tau kan bagaimana rasanya pake gaun, high heels dan make up di atas truk sayur?” Kata Amy cengar cengir.

            Chika melengos.

            “Ya, sekarang bagaimana donk. Kita semua kan nggak muat naik mobil truknya Papa Fofo bersama seluruh barang-barang ini?” Chika masih cemberut.

            “Kan ada aku dan mobilku?” Gary terkikik geli.

            Chika langsung berlari keluar dan terbelalak melihat Mazda MX-5 Miata terparkir manis di luar.

            “Wow! Mobil atap terbuka persis seperti yang gue bayangin!” Pekik Chika setengah menjerit. Chika menghambur memeluk Gary.

            “Makasih ya, Say? Lho? Katanya ada resepsi sodaramu. Kok malah ke sini?”

            “Itu minggu depan, kalee. Makanya nyimak donk kalo aku ngobrol ke kamu. Matamu nyalang sich ke ngeliatin fashion melulu kalo lagi sama aku.” Gary pura-pura cemberut.

            “Woii. Jangan lama-lama meluknya! Bukan muhrim! Bentar lagi gue muntah nich!” Gerutu Amy kesal.

            Semua tertawa menanggapi gerutuan Amy.

            “Makanya ada resolusi tambahan buat Lo, Myy!” Teriak semua serempak.

            “Apa?” Kata Amy menjulurkan lidahnya.

            “Jadi feminin en jangan galak-galak jadi ceweek.” Semua tertawa melihat Amy yang mengejar-ngajar keempat sahabatnya.

            Tahun baru? Sesuatu, ya. Selamat tahun baru semua, Amy berkata dalam hati.

 

***

 

Tentang Kenangan

Aku mengukur jalan kenangan berlapis karpet daun-daun ini dengan langkah perlahan. Sesekali dedaunan jatuh menimpa kepalaku seolah sedang menyapa. Suara lantunan ayat-ayat suci menyejukkan hati terdengar dari speaker mesjid besar di sebelah kiri. Langkahku terhenti di depan sebuah gedung megah di sebelah kananku.

Desau angin sedikit mengacaukan anak-anak rambutku yang memang tak pernah rapi. Angin itu berbisik tentang kenangan lima belas tahun yang lalu. Aku menghela napas panjang. Perlahan semerbak kotoran kuda yang khas menggelitik indera penciuman. Nyaris tak ada yang berubah.

Aku melangkah pelan menghayati kenangan, menuju gedung megah almamaterku. Sebuah patung ganeca berdiri angkuh seakan menyapaku dalam diam. Saat aku menaiki anak tangga aula sebelah timur, aku berhenti. Mendadak aku berdebar-debar oleh suatu perasaan. Perasaan yang persis sama seperti lima belas tahun yang lalu.

Saat itu aku sedang asyik mengamati foto-foto wisuda yang digelar fotografer liar untuk dijual sepanjang koridor aula timur. Aku susuri satu persatu sosok-sosok bertoga dengan jubah kebesaran tanda mereka berhasil menaklukkan ruang sidang.

Aku menemukan foto seseorang yang memenuhi hatiku dengan bunga dan meniupkan aroma rindu. Aku mengambil lalu membelinya. Saat bertransaksi, mataku berkeliling waspada seperti seorang pencuri. Ini fotonya. Harusnya dia yang berhak membelinya. Pada akhirnya akupun memasukkan foto itu ke dalam ransel.

Saat menutup ransel, aku berdebar-debar keras saat kehangatan merayapi hati. Aku mendongakkan kepala dan mendapati seseorang menatapku lembut. Sosok dalam foto yang kucuri. Udara seolah membeku pada jarak antara aku dan dia.

Saat ini, setelah lima belas tahun berlalu, akupun merasakan lagi debar-debar itu. Dengan gemetar, aku mendongakkan kepala. Benar itulah dia. Laki-laki yang sama sedang menatapku dengan tatapan lembut. Persis seperti dahulu. Hanya bertambah tua. Kami saling menatap berusaha menuntaskan rindu.

“Papa! Papa! Ayo Pa! Kita sholat dhuhur dulu kata Mama!”

Suara anak kecil memecah kesunyian diantara kami. Anak kecil itu menarik-narik tangan lelaki itu. Lelaki yang sama. Lelaki dari masa lalu. Lima belas tahun berlalu tampaknya tak sanggup mengubah perasaan kami. Aku membuka tasku, meraih foto yang kubeli dahulu. Meremasnya. Membuangnya ke tempat sampah pertama yang kutemui. Move on. Itulah yang harus kulakukan.

Aku tak sanggup bertemu dalam reuni esok hari. Seperti yang kujanjikan pada lelaki itu seminggu yang lalu. Tidak, jika hatiku masih terbungkus dalam kenangan.

Cikarang, 7 April 2013

English: Lima Lima Flight team performing at T...

English: Lima Lima Flight team performing at Thunder over Louisville. Thunder opens a two week celebration which ends with the Kentucky Derby, on the first Saturday in May. (Photo credit: Wikipedia)